Skip to main content

Nation Building: Unity in Diversity IndonesiaX

Tentang Kursus

Di tengah isu yang menerpa Pancasila, serta tantangan terhadap penghayatan tentang kebhinekaan, kursus ini sangat relevan sebagai oase penyegar. Tiga orang pakar akan mengelaborasi dan memperkaya gagasan kebhinekaan di dalam kursus ini. Pertama, Prof. Herawati Sudoyo akan mengajak kita mendefinisikan manusia Indonesia dalam perspektif fakta antropologi dan genetika.

Kedua, Hilmar Farid, Ph.D., yang kini menjabat sebagai Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan mengkritisi diskursus kebhinekaan yang ironisnya berkelindan dalam kelompok-kelompok ber-privilege nan homogen. Menurut beliau, kebhinekaan tidak akan terartikulasikan secara baik dalam nuansa kesenjangan dan ketidakadilan.

Kemudian, secara reflektif, Yudi Latif, Ph.D., memaparkan titik harmoni antara kemusliman, sebagai identitas mayor di Indonesia, dengan Pancasila dan nilai-nilai leluhur bangsa. Sehingga, tidak ada alasan bagi bangsa Indonesia untuk berpecah belah. Melengkapi paparan Hilmar, Yudi menekankan bahwa keadilan dan persatuan tidak dapat dipertukarkan dan tidak dapat saling menggantikan. Keduanya harus seiring seperti kepak sayap Garuda.

Kursus ini juga merupakan bagian dari acara Koentjaraningrat Memorial Lectures XIII - 2017 yang digelar oleh Forum Kajian Antropologi Indonesia (FKAI). Semoga keikutsertaan dalam kursus ini dapat menjadi motivasi untuk mengenal bangsa Indonesia dan nusantara lebih mendalam.

Topik Kursus

  • Minggu 1: Asal-usul Keanekaragaman Manusia Indonesia
  • Minggu 2: Kemajemukan dan Keadilan
  • Minggu 3: Pancasila: Ideologi Inklusif bagi Kemajemukan Indonesia
  • Profil Instruktur

    Prof. Herawati Sudoyo, Ph.D.

    Prof. Herawati Sudoyo, Ph.D.

    Lembaga Biologi Molekular Eijkman

    Herawati Sudoyo merupakan dokter dan pakar DNA forensik dari Lembaga Biologi Molekul Eijikman. Namanya semakin dikenal saat membantu pihak kepolisian mengidentifikasi pelaku bom bunuh diri pada September 2004. Hera bersama Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Kepolisian Republik Indonesia berhasil mengumpulkan sampel DNA pelaku bom bunuh diri dan mencocokkannya dengan DNA keluarga tersangka. Karena jasa dan kepakarannya tersebut, ia dianugerah Habibie Award pada tahun 2008 sebagai peletak dasar pemeriksaan DNA forensik untuk identifikasi pelaku bom bunuh diri.

    Hera juga dianugerahi Wing Kehormatan Kedokteran Kepolisian pada tahun 2007 dan Australian Alumni Award of Scientific and Research Innovation pada tahun 2008. Ia meraih gelar sarjana dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) pada tahun 1977 dan gelar master dari Fakultas Pascasarjana UI pada 1985. Gelar doktoral di bidang biokimia dari Monash University, Australia ia raih pada tahun 1990.

    Hilmar Farid, Ph.D.

    Hilmar Farid, Ph.D.

    Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia

    Hilmar Farid merupakan sejarawan dan akademisi. Sebagai sejarawan dan pengkaji kebudayaan, ia aktif di Asian Regional Exchange for New Alternatives (ARENA) dan di Inter- Asia Cultural Studies Society sebagai editor. Bersama beberapa orang seniman, peneliti, aktivis, dan pekerja budaya di Jakarta, ia mendirikan Jaringan Kerja Budaya pada 1994 dan menerbitkan bacaan cetak berkala Media Kerja Budaya. Pada 2003, bersama dengan sejumlah sejarawan dan aktivis, ia mendirikan Institut Sejarah Sosial Indonesia.

    Hilmar, yang menyelesaikan kuliah S1 di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada 1993, juga merupakan pengajar di Institut Kesenian Jakarta dari 1995-1999, dan kembali mengajar di kampus tersebut sejak 2014 sampai sekarang. Ia meraih gelar doktor di bidang kajian budaya di National University of Singapore pada Mei 2014 dengan disertasi berjudul Rewriting the Nation: Pramoedya and the Politics of Decolonization yang akan segera terbit dalam bentuk buku. Kini ia menjabat sebagai Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia sejak 31 Desember 2015.

    Yudi Latif, Ph.D.

    Yudi Latif, Ph.D.

    Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia

    Nama Yudi Latif identik dengan representasi muslim cendikia Indonesia. Dengan kejernihan, kecakapan wawasan oriental dan oksidental, serta pisau analisis yang tajam, protégé cendikiawan Nurcholish Madjid ini telah menulis banyak buku. Salah satu di antaranya, berjudul Intelegensia Muslim dan Kuasa, bersumber dari disertasi doktoralnya di Australian National University.

    Kini Yudi aktif sebagai Direktur Eksekutif Reform Institute, pimpinan Pesantren Ilmu Kemanusiaan dan Kenegaraan, dan menjadi narasumber untuk Lembaga Ketahanan Nasional. Ia juga merupakan salah satu penasehat Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud. Bersama tokoh-tokoh cendikia lain, Yudi memiliki peran memperbaiki relasi sosial dan perlakuan pemerintah Arab Saudi terhadap tenaga kerja Indonesia.

    Yudi meraih gelar master dari Australian National University pada 1999, sementara gelar sarjana di bidang komunikasi ia peroleh dari Universitas Padjadjaran pada tahun 1990. Ia juga pernah menjabat sebagai Wakil Rektor Universitas Paramadina, peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Peneliti Senior di Center for Presidential and Parliamentary Studies, dan dosen di Universitas Pasundan serta Universitas Islam Nusantara.

    Enroll