Skip to main content
profile-partner-cover

BNPB

Sejarah Lembaga Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terbentuk tidak terlepas dari perkembangan penanggulangan bencana pada masa kemerdekaan hingga bencana alam berupa gempa bumi dahsyat di Samudera Hindia pada abad 20. Sementara itu, perkembangan tersebut sangat dipengaruhi pada konteks situasi, cakupan dan paradigma penanggulangan bencana.

Melihat kenyataan saat ini, berbagai bencana yang dilatarbelakangi kondisi geografis, geologis, hidrologis, dan demografis mendorong Indonesia untuk membangun visi untuk membangun ketangguhan bangsa dalam menghadapi bencana.

Wilayah Indonesia merupakan gugusan kepulauan terbesar di dunia. Wilayah yang juga terletak di antara benua Asia dan Australia dan Lautan Hindia dan Pasifik ini memiliki 17.508 pulau. Meskipun tersimpan kekayaan alam dan keindahan pulau-pulau yang luar biasa, bangsa Indonesia perlu menyadari bahwa wilayah nusantara ini memiliki 129 gunung api aktif, atau dikenal dengan ring of fire, serta terletak berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik aktif dunia?Lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik.

Tragedi gempa bumi dan tsunami yang melanda Aceh dan sekitarnya pada tahun 2004 telah mendorong perhatian serius Pemerintah Indonesia dan dunia internasional dalam manajemen penanggulangan bencana. Menindaklanjuti situasi saat iu, Pemerintah Indonesia mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2005 tentang Badan Koordinasi Nasional Penanganan Bencana (Bakornas PB). Badan ini memiliki fungsi koordinasi yang didukung oleh pelaksana harian sebagai unsur pelaksana penanggulanagn bencana. Sejalan dengan itu, pendekatan paradigma pengurangan resiko bencana menjadi perhatian utama.

Dalam merespon sistem penanggulangan bencana saat itu, Pemerintah Indonesia sangat serius membangun legalisasi, lembaga, maupun budgeting. Setelah dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana, pemerintah kemudian mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2008 tentang Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). BNPB terdiri atas kepala, unsur pengarah penanggulangan bencana, dan unsur pelaksana penanggulangan bencana. BNPB memiliki fungsi pengkoordinasian pelaksanaan kegiataan penanggulangan bencana secara terencana, terpadu, dan menyeluruh.

http://www.bnpb.go.id

Dr. Ir. Agus Wibowo, M.Sc.

Dr. Ir. Agus Wibowo, M.Sc.

Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Penanggulangan Bencana BNPB

Agus Wibowo adalah Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Penanggulangan Bencana di BNPB. Setelah menempuh pendidik S1 di Teknik Sipil UGM Yogyakarta, beliau melanjutkan pendidikan S2 bidang Teknologi Informasi Geospasial di University of Twente, Faculty of Geo-Information Science and Earth Observation (ITC)

dan Wageningen Agricultural University (WAU) Belanda, dan program Doktoral bidang Teknologi Geomatika Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan ITS Surabaya. Dari tahun 1992 sampai dengan 2012 beliau bekerja di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sebagai perekayasa bidang teknologi inventarisasi untuk sumberdaya alam khususnya dalam teknologi system informasi geografis dan penginderaan jauh. Sejak Februari 1992 pindah ke BNPB sebagai kepala bidang data dan informasi, Direktur Pemulihan dan Peningkatan Sosial Ekonomi dan sejak 2018 sebagai Kepala Pusdiklat Penanggulangan Bencana.

Ir. Bernardus Wisnu Widjaja, M.Sc.

Ir. Bernardus Wisnu Widjaja, M.Sc.

Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB

Setelah menempuh Pendidikan S1 Geologi di UGM Yogyakarta, beliau melanjutkan S2 bidang Teknik Geologi di Universitas Leeds Inggris. Beliau telah berkiprah dalam bidang penanggulangan bencana sejak tahun 2002.Beberapa pengalaman bekerja beliau adalah pernah menjadi Ketua Pokja Asistensi Teknis Mitigasi

Bencana di Ristek, kemudian di tahun 2002-2007 pernah menjadi kabag Mitigasi Bencana Alam di Bakornas PB, tahun 2007-2008 menjadi Kasubdit Teknik Mitigasi Bencana di Bakornas PB, kemudian Beliau menjadi Direktur Pengurangan Risiko Bencana di BNPB sejak 2008 sampai 2010, pernah juga menjadi Kapusdiklat PB BNPB tahun 2012-2014.

Dr. Fitriana Suprapti

Dr. Fitriana Suprapti

Sekretaris Jendral Jakarta Rescue

Jakarta Rescue merupakan organisasi kemanusiaan bersifat mandiri yang bergerak dalam bidang kemanusiaan, bencana sosial maupun alam dengan fokus memberdayakan masyarakat dan pemuda seluruh Indonesia melalui pelatihan-pelatihan yang berhubungan dengan penyelamatan.

Beliau aktif sebagai pengajar untuk materi praktik mitigasi dan penyelamatan kepada berbagai pihak.

R. Theodora Eva Yuliana Aritonang, A.Ks, M.Si (Han)

R. Theodora Eva Yuliana Aritonang, A.Ks, M.Si (Han)

Widyaiswara di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Penanggulangan Bencana, Badan Nasional Penanggulangan Bencana

Beliau menempuh studi Kesejahteraan Sosial D IV di Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial pada tahun 1999, kemudian melanjutkan studi S2 pada Manajemen Bencana untuk Keamanan Nasional di Universitas Pertahanan pada tahun 2012. Pengalaman Bekerja Beliau diantaranya sebagai Kasubbid Kurikulum di Pusdiklat PB BNPB.

Pelatihan yang pernah Beliau ikuti diantaranya adalah Incident Command System Excercise Design tahun 2013, Mentawai Megatrust Relief Excercise tahun 2014, dan Management of Training tahun 2014.

Apriyuanda Bayu Pradana, STP, M.Sc.

Apriyuanda Bayu Pradana, STP, M.Sc.

Widyaiswara di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Penanggulangan Bencana, Badan Nasional Penanggulangan Bencana

Beliau lahir 35 tahun yang lalu, lulus S1 di Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya tahun 2006. Kemudian Beliau melanjutkan program master di Universitas Gajah Mada dalam program studi Ilmu Manajemen, Fakultas Ekonomika dan Bisnis.

Beliau mengampu beberapa materi pelatihan kebencanaan, beberapa diantaranya adalah konsepsi bencana, prinsip dasar penanggulangan bencana, karakteristik bencana, dan sistem nasional penanggulangan bencana.